Berita Terkini
Nasional
Dunia
Bisnis
Dunia Islam
Pemuda
Perempuan
Daerah
Kabar Banten
Nasional
Jakarta: Masih banyaknya korban banjir yang bertahan di rumah masing-masing, membuat Partai Keadilan Sejahtera berinisiatif mendatangi mereka dan memberikan bantuan secara langsung.
Seperti yang dilakukan Adi, kader PKS yang tinggal di bilangan Jagakarsa. Adi bersama kader PKS lainnya mendatangi warga di Jl. Tohir RT 03 RW 05 Lenteng Agung, Kecamatan Pasar Minggu, Jumat (18/1). Ia membagikan sarapan pagi kepada para korban banjir berupa bubur dan teh manis.
Menurut Adi, untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan pada korban banjir, PKS mendirikan dapur umum. "Alhamdulillah PKS sudah mendirikan dapur umum. Ibu-ibunya memasak dan menyiapkan makanan untuk warga, sedangkan bapak-bapaknya mengantarkan langsung pada warga," terang Adi.
Selain memberi makanan, PKS juga mendatangi warga yang sedang sakit di rumah mereka. Seperti yang dilakukan kader PKS bernama Sumi yang berkeliling bersama seorang dokter di lokasi banjir Kebayoran Baru. Umumnya, warga menderita gatal-gatal, batuk dan flu.
Menurut Ketua Bidang Lembaga Sosial PKS Jakarta Selatan Ir. Rahadi, PKS memang mengambil inisiatif untuk mendatangi warga, karena tidak seluruh daerah terdampak banjir tinggi, sehingga warga masih beraktifitas di rumah masing-masing. "Meski banjir di daerah mereka tidak dalam, bagaimana pun, mereka juga korban banjir yang perlu ditolong, sehingga tidak ada kecemburuan sosial di antara para korban banjir karena tidak menerima bantuan," jelasnya.
Sumber: [Andhini/wtr6/metrotvnews.com]
Jakarta - Belajar dari kekalahan Pilkada DKI 2007, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diprediksi akan menggalang koalisi dengan parpol lain di 2012. Sehingga beban bisa lebih terdistribusi dan lebih ringan memenangi pertarungan.
Milad (hari jadi) PKS ke-13 sukses digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (17/4). Milad ini bisa dibaca sebagai show of force dengan muatan kepentingan untuk pemanasan menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012.
Sementara parpol lain seperti Gerindra, Golkar, Hanura dan Demokrat masih melakukan strategi inventarisasi calon dan penguatan konsolidasi, PKS sudah memastikan calon gubernurnya, Triwisaksana.
Ketua Umum DPW PKS DKI Jakarta, Selamat Nurdin, menegaskan, calon gubernur yang nanti diusung memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan pemerintah pusat dan partai pendukung koalisi.
Para analis melihat, PKS tidak akan mengulangi kesalahan seperti 2007 yang dikeroyok hampir semua parpol nasionalis dalam Pilkada DKI. PKS nampak bersikap realistis memikirkan koalisi dengan parpol lain dalam Pilkada kali ini.
''PKS kemungkinan berkoalisi dengan parpol lain,''kata Mohamad Nabil dari Centre for the Study of Religion and Culture, UIN Jakarta. Karena itu, pada Pilkada 2012, PKS menargetkan untuk memimpin Ibukota dan juga kemenangan pada pemilu 2014.
Dalam pilkada DKI 2007, pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar memang kalah. Tetapi, pasangan yang diusung PKS itu dianggap telah ‘memenangi’ demokrasi yang tengah bertumbuh di negeri ini. PKS menilai, mereka kalah amat terhormat dan kalah dengan jiwa besar.
PKS tampaknya berharap mendulang kemenangan pada Pilgub DKI Jakarta kali ini seperti sukses yang diraih di Jawa Barat. Dalam konteks PKS di DKI Jakarta dan Tanah Air secara umum itu, ada dua hal yang menjadi fenomena menarik. Pertama, keberhasilan PKS yang perlu memperoleh perhatian khusus.
Keberhasilan PKS dalam mengubah strategi pada Pemilu 2004 menunjukkan isu fundamentalisme bukan merupakan komoditas ideologis yang dapat menjadi landasan politik.
PKS tampaknya memperoleh suara dari kalangan Islam terdidik dan masyarakat kelas menengah perkotaan. Hal itu merupakan fenomena masyarakat kota yang rasional dalam memilih partai dibanding masyarakat pedesaan.
Namun belakangan ini, PKS mendapat ‘pukulan dari dalam’ menyusul laporan dugaan korupsi ke KPK oleh elite PKS sebagaimana yang dilakukan mantan tokoh seniornya Yusuf Supendi, imbas kasus Arifinto dan konflik internal yang masih mengganjal.
Kedua, PKS mulai bergeser dengan isu clean government dan good governance dan tak lagi mengusung isu syariat Islam. Dibanding Pemilu 1999, modernisasi partai ini merupakan salah satu faktor penting untuk makin memperluas konstituensi politik.
Dengan platform untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera, PKS memperoleh lebih dari 50 persen kursi DPR di Jakarta, menunjukkan besarnya harapan publik pada upaya panghapusan KKN dan kemiskinan.
Dalam Pilkada 2012 di DKI Jakarta ini, PKS harus bertarung dengan agenda dan persiapan yang lebih matang dan rapi, sehingga peluangnya untuk menang tetap terbuka.
“Sebagai partai petarung, PKS telah teruji, parpol pesaing tak boleh meremehkan peluang kandidat PKS kali ini yang relatif muda,” kata Abdurahman, peneliti muda pada Madjid Politika, Jakarta. [mdr]
http://inilah.com
Milad (hari jadi) PKS ke-13 sukses digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (17/4). Milad ini bisa dibaca sebagai show of force dengan muatan kepentingan untuk pemanasan menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012.
Sementara parpol lain seperti Gerindra, Golkar, Hanura dan Demokrat masih melakukan strategi inventarisasi calon dan penguatan konsolidasi, PKS sudah memastikan calon gubernurnya, Triwisaksana.
Ketua Umum DPW PKS DKI Jakarta, Selamat Nurdin, menegaskan, calon gubernur yang nanti diusung memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan pemerintah pusat dan partai pendukung koalisi.
Para analis melihat, PKS tidak akan mengulangi kesalahan seperti 2007 yang dikeroyok hampir semua parpol nasionalis dalam Pilkada DKI. PKS nampak bersikap realistis memikirkan koalisi dengan parpol lain dalam Pilkada kali ini.
''PKS kemungkinan berkoalisi dengan parpol lain,''kata Mohamad Nabil dari Centre for the Study of Religion and Culture, UIN Jakarta. Karena itu, pada Pilkada 2012, PKS menargetkan untuk memimpin Ibukota dan juga kemenangan pada pemilu 2014.
Dalam pilkada DKI 2007, pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar memang kalah. Tetapi, pasangan yang diusung PKS itu dianggap telah ‘memenangi’ demokrasi yang tengah bertumbuh di negeri ini. PKS menilai, mereka kalah amat terhormat dan kalah dengan jiwa besar.
PKS tampaknya berharap mendulang kemenangan pada Pilgub DKI Jakarta kali ini seperti sukses yang diraih di Jawa Barat. Dalam konteks PKS di DKI Jakarta dan Tanah Air secara umum itu, ada dua hal yang menjadi fenomena menarik. Pertama, keberhasilan PKS yang perlu memperoleh perhatian khusus.
Keberhasilan PKS dalam mengubah strategi pada Pemilu 2004 menunjukkan isu fundamentalisme bukan merupakan komoditas ideologis yang dapat menjadi landasan politik.
PKS tampaknya memperoleh suara dari kalangan Islam terdidik dan masyarakat kelas menengah perkotaan. Hal itu merupakan fenomena masyarakat kota yang rasional dalam memilih partai dibanding masyarakat pedesaan.
Namun belakangan ini, PKS mendapat ‘pukulan dari dalam’ menyusul laporan dugaan korupsi ke KPK oleh elite PKS sebagaimana yang dilakukan mantan tokoh seniornya Yusuf Supendi, imbas kasus Arifinto dan konflik internal yang masih mengganjal.
Kedua, PKS mulai bergeser dengan isu clean government dan good governance dan tak lagi mengusung isu syariat Islam. Dibanding Pemilu 1999, modernisasi partai ini merupakan salah satu faktor penting untuk makin memperluas konstituensi politik.
Dengan platform untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera, PKS memperoleh lebih dari 50 persen kursi DPR di Jakarta, menunjukkan besarnya harapan publik pada upaya panghapusan KKN dan kemiskinan.
Dalam Pilkada 2012 di DKI Jakarta ini, PKS harus bertarung dengan agenda dan persiapan yang lebih matang dan rapi, sehingga peluangnya untuk menang tetap terbuka.
“Sebagai partai petarung, PKS telah teruji, parpol pesaing tak boleh meremehkan peluang kandidat PKS kali ini yang relatif muda,” kata Abdurahman, peneliti muda pada Madjid Politika, Jakarta. [mdr]
http://inilah.com
PKS Taktakan, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyebutkan PKS hanya mendapat suara sebesar 3,7 persen jika pemilu dilaksanakan saat ini.
Hasil survei LSI tersebut dinilai selalu merendahkan PKS. Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, menyebutkan sejak dulu LSI memang selalu merendahkan PKS dengan prediksi perolehan suara yang rendah.
"Saya ingat betul saat saya menjadi Presiden PKS menjelang pemilu 2004, mereka (LSI) melaunching hasil survei terkait keterpilihan partai-partai dan selalu hasilnya suara PKS rendah," keluh Hidayat saat berbincang dengan INILAH.COM di ruang kerjanya, Selasa (21/2/2012).
Saat itu, kata Hidayat, suara PKS hanya diprediksi naik dari 1,3 persen pada Pemilu 1999 hanya menjadi 3 persen. "Tapi nyatanya PKS dapat lebih dari 7 persen," tegas Hidayat.
Menurut Hidayat, dengan bercermin dari pengalaman itu sebaiknya LSI juga berkaca agar tidak lagi salah dalam memprediksi dan selalu menganggap lembaga yang selalu benar.
Seperti diberitakan, LSI merilis hasil survei terkini dengan menempatkan PKS di urutan kedelapan dengan perolehan 3,7 persen. [mah][Sumber: inilah.com]
Hasil survei LSI tersebut dinilai selalu merendahkan PKS. Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, menyebutkan sejak dulu LSI memang selalu merendahkan PKS dengan prediksi perolehan suara yang rendah.
"Saya ingat betul saat saya menjadi Presiden PKS menjelang pemilu 2004, mereka (LSI) melaunching hasil survei terkait keterpilihan partai-partai dan selalu hasilnya suara PKS rendah," keluh Hidayat saat berbincang dengan INILAH.COM di ruang kerjanya, Selasa (21/2/2012).
Saat itu, kata Hidayat, suara PKS hanya diprediksi naik dari 1,3 persen pada Pemilu 1999 hanya menjadi 3 persen. "Tapi nyatanya PKS dapat lebih dari 7 persen," tegas Hidayat.
Menurut Hidayat, dengan bercermin dari pengalaman itu sebaiknya LSI juga berkaca agar tidak lagi salah dalam memprediksi dan selalu menganggap lembaga yang selalu benar.
Seperti diberitakan, LSI merilis hasil survei terkini dengan menempatkan PKS di urutan kedelapan dengan perolehan 3,7 persen. [mah][Sumber: inilah.com]
![]() |
| Anis Byarwati, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Perempuan |
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyebutkan, hingga tahun 2010 lalu jumlah perempuan Indonesia yang belum melek huruf jumlahnya mencapai 5 juta lebih.
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Perempuan, Anis Byarwati menyatakan keprihatinan mendalam atas realita tersebut. Dibalik hingar bingar program pembangunan yang dijalankan pemerintah, ternyata masih terdapat jutaan rakyatnya yang terbelakang secara pengetahuan.
"Angka buta aksara di kalangan perempuan Indonesia masih tinggi. Kemendikbud tahun 2010 menyebutkan ada 5,3 juta perempuan Indonesia berusia diatas 15 tahun yang masih buta aksara. Angka itu jelas tidak kecil," jelas Anis dalam siaran persnya kepada okezone di Jakarta, Rabu (30/12/2011).
Menurutnya, angka tersebut boleh jadi merupakan fenomena gunung es. Artinya, dalam jumlah riil bisa jadi lebih banyak perempuan Indonesia yang buta aksara. Kondisi itu, sambung Anis, disebabkan karena banyaknya perempuan Indonesia yang terpaksa tidak sekolah atau putus sekolah. Dan kemiskinan keluarga Indonesia adalah pangkal tak mampunya perempuan Indonesia bersekolah.
Lembaga Internasional, The Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP) tahun 2008 menyebutkan 70 persen siswa yang tidak bersekolah disebabkan karena ketidakmampuan keuangan.
Sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2009 menyebutkan, keluarga miskin masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi biaya pendidikan, seperti biaya transportasi, buku, dan seragam sekolah.
Laporan Bappenas (2009) juga menyatakan, pada tujuan ketiga dari target sasaran. MDGs (Millenium Development Goals), yakni mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok umur 15-24 tahun dilaporkan telah tercapai. Indeks Partisipasi Gender (IPG), yang menjadi salah satu indikator keberhasilan melek huruf tersebut, untuk kelompok umur 15-24 tahun hampir mendekati angka 100.
Dengan tingkat melek huruf pada kelompok perempuan sebesar 99,40 persen dan tingkat melek huruf pada laki-laki sebesar 99,55 persen. Di 15 Provinsi, tingkat melek huruf untuk perempuan dalam kelompok umur ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tingkat melek huruf pada laki-laki. "Data itu sungguh paradoks dengan laporan MDGs 2010," pungkas Anis. (ful) [Sumber: Muhammad Saifullah - Okezone.com]
Surabaya - Kenyataan bahwa Jatim sebagai wilayah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia benar-benar memprihatinkan dan membuat miris kader PKS Jatim.
Ini terkait data yang baru dirilis Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML) Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, di Jatim hingga September 2011, tercatat ada 4.318 kasus AIDS.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan Papua yang menempati peringkat kedua dengan 4.005 kasus. Peringkat ketiga ditempati DKI Jakarta dengan 3.998 kasus, disusul Jawa Barat dengan 3.804 kasus. Bali menempati posisi paling bawah di daftar 5 besar provinsi yang memiliki jumlah kumulatif kasus AIDS tertinggi di Indonesia dengan 2.331 kasus.
"Kami terkejut dengan data terbaru itu. Benar-benar membuat miris. Hal ini mesti mendapat perhatian yang lebih serius dari kita semua, terutama Pemprov Jatim," kata Ketua Bidang Perempuan DPW PKS Jatim Dwi Sulistyorini, Kamis (1/12/2011).
Menurut Dwi, selain karena perilaku seks yang tidak sehat, penularan HIV/AIDS juga melalui jarum suntik, ketidaktepatan penggunaan alat kontrasepsi (kondom) dan sebab-sebab yang lain. Tapi suka tidak suka harus diakui bahwa perilaku seksual menyimpanglah yang menjadi biang kerok utama persebaran HIV/AIDS di masyarakat.
"Kalau ingin menanggulangi HIV/AIDS, menyehatkan dulu perilaku seks masyarakat. Gampangnya, perzinaan yang semakin terang terangan dan gonta-ganti pasangan, harus dihentikan. Kami menyerukan untuk kembali memperkuat kesetiaan pada pasangan masing-masing. Tidak boleh lagi 'jajan' sembarangan," tegasnya.
Lebih lanjut, mantan Ketua Bidang Perempuan DPD PKS Surabaya ini berharap Jatim tidak menyusul DKI Jakarta yang jumlah ibu rumah tangga pengidap HIV/AIDS kasusnya cukup tinggi. Tercatat ada 147 kasus. Meningkat dibanding tahun lalu. Yang ironis, penularan HIV/AIDS kepada para ibu rumah tangga tersebut terbesar karena suaminya lebih dulu mengidap HIV/AIDS dan sebagian lagi karena masih suka 'jajan' di luar, meski sudah punya istri.
Masalah kesetiaan pada pasangan ini penting dipertimbangkan untuk digencarkan kampanyenya. Pihaknya termasuk yang kurang setuju kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang selama ini sudah dijalankan banyak kalangan, yang sayangnya terkesan seperti melegalkan free sex, seperti aksi bagi-bagi kondom dan sebagainya.
"Kampanye seperti itu tentu saja ada baiknya. Tapi bila tidak tepat porsinya, justru akan dianggap melegalkan perzinaan dan pada gilirannya malah akan menumbuhsuburkan perilaku seks menyimpang. Padahal inilah biang kerok melebarnya penyebaran HIV/AIDS," katanya. [beritajatim.com/INILAH.COM]
Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengaku heran dengan kebijakan di bawah menteri yang baru. Kebijakan tersebut dinilainya tidak pro rakyat. “Kebijakan menteri sebelumnya, Fadel Muhammad sebenarnya sudah bagus dan pro nelayan. Kebijakannya seharusnya kan dilanjutkan,” katanya saat dihubungi Republika, Kamis (1/12).
Jangan-jangan, lanjut dia, ada tekanan dari pihak lain terkait posisi dan kebijakan yang harus diambil oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Kalau mau impor, sekedarnya saja, karena kita tidak tahu juga kalau ada tekanan dari pihak lain,” katanya sedikit pasrah dengan kebijakan yang dinilainya akan merugikan para nelayan lokal.
Kalau alasan impor ikan dilakukan karena ongkos bahan baku pemindangan jauh lebih murah dibandingkan mendatangkan bahan baku pemindangan dari Indonesia Timur, ia beranggapan alasan itu tidak masuk akal. Kalau alasan itu digunakan, maka seharusnya tata niaga perhubungan yang harus diperbaiki.
“Memang benar kalau biaya impor lebih murah, tapi apakah impor menjadi solusi yang benar dan baik? Coba perhubungan kita diperbaiki mungkin ongkos bahan baku dari Indonesia Timur tidak menjadi mahal dan lebih efisien,” ujar Winarno. [Sumber: REPUBLIKA.CO.ID]
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sepakat dengan usulan pemerintah terkait angka ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinaikkan dari 2,5 persen menjadi 4 persen.
Usulan pemerintah itu masuk dalam daftar inventarisasi masalah Rancangan Undang-Undang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum yang telah diserahkan ke DPR.
"Kalau semua fraksi itu bersepakat di angka 4 persen, yah PKS no problem karena yang kita tawarkan dari awal antara 3 sampai 4," kata Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Mahfudz Siddiq, di Komplek DPR, Kamis (27/10/2011).
Meski demikian, kata Mahfudz, jika tetap masih ada fraksi yang keberatan atas usulan itu, pihaknya bersedia menurunkan ambang batas. PKS berpendapat angka minimal yakni 3 persen.
Menurut Mahfudz, angka 3 persen adalah angka terbaik lantaran berada di titik tengah antara usulan pemerintah yakni 4 persen dengan keinginan beberapa fraksi di angka 2,5 persen.
"Apakah mereka mau bergerak satu langkah ke angka 3. Kalau mau, itu mempermudah. Yang jelas, jangan sampai persoalan ini divoting. Kalau divoting, efek kontraksi politiknya lebih besar," ucap Ketua Komisi I itu.[Sumber: Sandro Gatra, A. Wisnubrata - kompas.com/Kamis, 27/10/2011]
Usulan pemerintah itu masuk dalam daftar inventarisasi masalah Rancangan Undang-Undang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum yang telah diserahkan ke DPR.
"Kalau semua fraksi itu bersepakat di angka 4 persen, yah PKS no problem karena yang kita tawarkan dari awal antara 3 sampai 4," kata Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Mahfudz Siddiq, di Komplek DPR, Kamis (27/10/2011).
Meski demikian, kata Mahfudz, jika tetap masih ada fraksi yang keberatan atas usulan itu, pihaknya bersedia menurunkan ambang batas. PKS berpendapat angka minimal yakni 3 persen.
Menurut Mahfudz, angka 3 persen adalah angka terbaik lantaran berada di titik tengah antara usulan pemerintah yakni 4 persen dengan keinginan beberapa fraksi di angka 2,5 persen.
"Apakah mereka mau bergerak satu langkah ke angka 3. Kalau mau, itu mempermudah. Yang jelas, jangan sampai persoalan ini divoting. Kalau divoting, efek kontraksi politiknya lebih besar," ucap Ketua Komisi I itu.[Sumber: Sandro Gatra, A. Wisnubrata - kompas.com/Kamis, 27/10/2011]
Jakarta - PKS berbangga diri dengan kemunculan nama Hidayat Nur Wahid di survei Capres. Apalagi nama Hidayat dalam survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) berada di atas Sri Mulyani, Ani Yudhoyono, Anas Urabaningrum, dan Hatta Rajasa. PKS yakin publik suka sosok yang tenang.
"Itu menunjukkan publik menerima figur PKS yang tenang, rasional, kompeten di bidangnya," kata Anggota Dewan Pakar PKS, Agoes Kooshartoro dalam siaran pers yang diterima detikcom melalui surat elektronik, Sabtu (29/10/2011).
Namun diakui Agoes, nama Hidayat masih jauh di bawah nama-nama seperti Prabowo, Megawati, Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Sri Sultan. Namun dengan sosok Hidayat, dinilai memiliki potensi ke depan.
"HNW selaku Ketua BKSAP berperan menggolkan Ketua DPR RI sebagai Presiden Parlemen Islam (OKI) dengan lobi internasional. Ia bukan sosok yang vulgar dan suka ancam-mengancam atau memancing kontroversi," terangnya.
Masih dalam siaran pers yang sama, menurut Direktur CIR, Sapto Waluyo terkait hasil survei, dalam komunikasi politik PKS harus terus memperbaiki diri. Elite PKS jangan memancing keributan dengan partai lain atau ormas tertentu.
Masih ada massa yang belum memutuskan untuk memilih. PKS dalam hasil survei Reform Institute memiliki elektabilitas yang cukup tinggi sekitar 7,36 persen di bawah Golkar, PD, dan PDIP.
"Ini merupakan warning keras agar elite PKS memperbaiki komunikasi politik yang buruk, karena tidak hanya merusak hubungan dengan partai lain atau ormas, juga menimbulkan kegalauan di kalangan kader atau simpatisan. PKS belum punya basis sosial yang kokoh, mayoritas pemilihnya kalangan urban dan terdidik, sehingga sangat kritis dengan isu dan perilaku kontroversial," ujar Sapto.(ndr/ken)[Sumber: Indra Subagja - detikNews.com/29/10/2011]
"Itu menunjukkan publik menerima figur PKS yang tenang, rasional, kompeten di bidangnya," kata Anggota Dewan Pakar PKS, Agoes Kooshartoro dalam siaran pers yang diterima detikcom melalui surat elektronik, Sabtu (29/10/2011).
Namun diakui Agoes, nama Hidayat masih jauh di bawah nama-nama seperti Prabowo, Megawati, Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Sri Sultan. Namun dengan sosok Hidayat, dinilai memiliki potensi ke depan.
"HNW selaku Ketua BKSAP berperan menggolkan Ketua DPR RI sebagai Presiden Parlemen Islam (OKI) dengan lobi internasional. Ia bukan sosok yang vulgar dan suka ancam-mengancam atau memancing kontroversi," terangnya.
Masih dalam siaran pers yang sama, menurut Direktur CIR, Sapto Waluyo terkait hasil survei, dalam komunikasi politik PKS harus terus memperbaiki diri. Elite PKS jangan memancing keributan dengan partai lain atau ormas tertentu.
Masih ada massa yang belum memutuskan untuk memilih. PKS dalam hasil survei Reform Institute memiliki elektabilitas yang cukup tinggi sekitar 7,36 persen di bawah Golkar, PD, dan PDIP.
"Ini merupakan warning keras agar elite PKS memperbaiki komunikasi politik yang buruk, karena tidak hanya merusak hubungan dengan partai lain atau ormas, juga menimbulkan kegalauan di kalangan kader atau simpatisan. PKS belum punya basis sosial yang kokoh, mayoritas pemilihnya kalangan urban dan terdidik, sehingga sangat kritis dengan isu dan perilaku kontroversial," ujar Sapto.(ndr/ken)[Sumber: Indra Subagja - detikNews.com/29/10/2011]
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
INILAH.COM, Tangerang - Kasus yang menimpa dua pimpinan KPK nonaktif Chandra M Hamzah dan Bibit S Rianto bergulir begitu kencang. Saking ken...
-
VIVAnews - Penahanan salah seorang anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Persatuan Pembangunan, Dimyati Natakusuma, atas du...
-
MAKASSAR - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera serta Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sulsel dan Sulbar membuat TV digital...
-
Penyerahan Pataka Sebagai Simbol Dimulainya Kepengurusan Gema Keadilan di Prov. Banten “PEMUDA HARUS JADI PEMIMPIN SAAT INI JUGA” Bonie M...
-
Jakarta - Pemanggilan Harian Sindo dan Kompas oleh Mabes Polri mendapat sindiran dari Menkominfo Tifatul Sembiring. Menurut mantan Presiden ...
-
Yoyoh Yusroh dan Keluarga Sosoknya memang sangat sederhana dan bersahaja, keberadaannya telah memberi nuansa baru di ruang rapat Komisi VIII...
-
INILAH.COM, Jakarta-Kira-kira siapa ketua DPR berikutnya? Apakah dari kader partai pemenang pemilu legislatif? PKS mendukung anggota majelis...
-
Susilo Bambang Yudhoyono JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera melakukan evaluasi total...
-
Sekretaris Jenderal PKS, Anis Matta Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta, menegaskan, partainya saat ini menjadi ...
Labels
Aat Syafaat
Aburizal Bakrie
AD dan ART
Adhyaksa Dault
Adnan Buyung Nasution
Ahmad Fathanah
Ahmad Heryawan
Ahmad Zainuddin
Al Muzzammil Yusuf
Anggoro Widjojo
Anies Rasyid Baswedan
Anis Byarwati
Anis Matta
Anton Apriyantono
Arifinto
Artikel
AS Hikam
Atut Chosiyah
Bailout
Banjir
Banten
Baroness Uddin
Bayan
BHD
Bibit-Chandra
Bidang Perempuan
BIN
Boediono
Bom
Bom Bunuh Diri
Bonie Hargens
Bonie Mufidjar
BPK RI
Budaya
Burhanuddin Muhtadi
Busyro Muqoddas
Capres
Capres Independen
Century
Cicak vs Buaya
Daerah
Deddy Mizwar
Deklarasi Damai
Departemen Pertanian (Deptan)
Dewan Grogi
Dewan Syariah PKS
Didik J Rachbini
Dimyati Natakusuma
Direct Selling
DPD PKS Kulonprogo
DPR RI
DPRD Gorontalo
DPRD Kab Serang
DR. Muhammad Badi’
Dubes AS
Ecky Awal Mucharam
Ekonomi
Erizal
Fachri Hamzah
Fatwa BBM
Feature
Fraksi PKS DPR
Fraksi PKS DPRD Banten
Fresh Money
Fuad Rumi
Gedung Baru DPR RI
Gema Keadilan
Gembong R Sumedi
Gemmar Mengaji
Gola Gong
Golkar
Gubernur
Gubernur Sumbar
Guru
Habib Aboe Bakar Alhabsy
Hamas
Harakah
Hatta Syamsuddin
Herlini Amran
Hidayat Didik
Hidayat Nurwahid
Hilmi Aminudin
Hukum dan HAM
HUT Israel
Ikhwanul Muslimin (IM)
ILC
Impor Daging
InCost Institute for Community Studyies
Intelijen
Internasional
International Crisis Group (ICG)
Irwan Prayitno
Islam KTP
Israel
Jatim
Jawa Barat
Jazuli Juwaini
JIL
Jilbab
Jimly Asshiddiqie
Jupri Supriadi
Kabupaten Serang
Kader Manja
KAMMI
Keanggotaan
Kebijakan Dasar
Keluarga
Kemal Stamboel
Kemenpora
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan RI
Kesehatan
Keuangan
Khairurrizqo
Khutbah Idul Adha
KNPI
Koalisi
Komisi III DPR
Konspirasi
Kota Cilegon
KPK
KPU Banten
KPU Kota Serang
Krisis Timur Tengah
Lady Gaga
LSI
Luthfi Hasan Ishaq
Mafia Pemilu
Mahfud MD
Mahfudz Siddiq
Majelis Syuro
Markaz Dakwah
Markus
Menkominfo
Menristek
Mensos
Mentan
Menteri KIB II
Mesir
Milad PKS
Misbakhun
MIUMI
Mobil Dinas
Moratorium
MPP PKS
MPR
Mudik
Muhammadiyah
MUI
Munas PKS
Mustafa Kamal
Najib Hamas
Nasional
Nasir Djamil
Nazaruddin
News
NII
Obama
Pansus Century
Pansus Pajak
Panwas Banten
Panwaslu
Parliamentary Threshold
Partai Demokrat
Partai Koalisi
PAW
PDIP
Pemakzulan
Pemilu
Pemuda
Pendidikan
Pengamat
Pengurus DPP
Pers
Piagam Deklarasi
Pilkada Banten
Pilkada DKI
Pilkada Jabar
Pilkada Kota Cilegon
Pilkada Serang
PKPU
PKS
PKS Bali
PKS Banten
PKS Jakarta
PKS Makassar
PKS Sulsel
Platform Kebijakan Pembangunan
Politik
POLRI
Presiden
Presiden PKS
Prof. Dr. Muhammad Mursi
Profil
Puisi dan Syair
Qitbiya Ilhami
Qiyadah
Rakernas
Rano Karno
Rapimnas PKS
Reformasi Birokrasi
Reshuffle
Ringkasan Eksekutif
RS Mitra Internasional
Rumah Keluarga Indonesia
Salim Assegaf
Sanuji Pentamarta
Save Our Palestine
SBY-Boediono
Sejarah PKS
Setgab
Siami
Simbol Negara
Skandal Dana Hibah
Sosial
ST 12
Suharna Suryapranata
Sumatera Utara
Surabaya
Surahman Hidayat
Suswono
Sydney Jones
Tarbiyah
Taujih
Tifatul Sembiring
Tim 8
Tokoh
Turki
Video
Visi dan Misi
Wahidin Halim
Wikileaks
Yatim
Yoyoh Yusroh
Yudi Widiana Adia
Yusuf Supendi








Recent Comment